Teralis jendela ini membuatku merasa berada di ruang tamu rumah nenek, yang di sebelah jendelanya ada setapak jalan menuju sungai yang dihiasi dengan pohon pandan dan beluntas yang ditata apik. Lantai kekuningan bermotif bunga dengan nat yang menghitam, mengingatkan tempat kaki kaki kecil berlarian dan tertawa berkejaran sementara para sang dewasa duduk di kursi rotan menikmati secangkir teh dan kopi menunggu malam. Lampu gantung antik berukir berwarna putih dan hitam seakan menjadi saksi betapa hangat dan lengkapnya malam itu. Kala itu aku hanya perlu bermain bersama sepupuku, sesekali aku mendengar para dewasa berbicara dengan nada tinggi. Namun tak lama, mereka kembali tertawa, menertawakan kesialannya, menertawakan sapi yang baru dibeli ternyata tiba tiba hanyut terbawa banjir, menangisi haru saat bibiku berkata dia hamil setelah menunggu selama 12 tahun dalam perkawinannya. Malam itu, hidup memang tetap berputar dengan segala apa adanya, bahagia, sedih tetap ada, namun yang berbed...